- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2826

JAKARTA. Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menganggap proyek pembangunan tol Trans-Sumatera tidak layak secara finansial. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun dipaksa untuk membiayai proyek tersebut.
"Mengapa Bapak (Jokowi) justru memaksakan pembungunan jalan tol Trans-Sumatera itu? Karena proyek itu tidak layak secara finansial, Bapak memaksa BUMN untuk membangunnya," ujar Faisal dalam surat terbukanya kepada Presiden Jokowi yang ia tulis di blog pribadinya, seperti dikutip pada Selasa (19/1/2016).
Awalnya kata Faisal, ia gembira lantaran Jokowi membatalkan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda. Namun ia kaget Presiden meninjau proyek jalan tol Trans-Sumatera yang merupakan bagian dari proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda.
Menurut Faisal, kedua proyek tersebut tercantum dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI).
"Sadarkah Bapak bahwa proyek jalan tol Trans-Sumatera sepanjang lebh dari 2.000 km merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proyek Jembatan Selat Sunda?" tulis Faisal.
Di surat tersebut, ia juga meminta Presiden untuk mengoreksi kebijakan proyek tol Trans-Sumatera. Menurut Faisal, proyek tersebut dibangun dengan pola pikir yang sesat.
Tol Trans Sumatera menghubungkan Lampung hingga Aceh sepanjang 2.048 kilometer. Pembangunan diperkirakan membutuhkan dana hingga Rp 360 triliun. Sebagian dana tersebut menggunakan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diberikan pemerintah kepada BUMN.
Adapun BUMN yang diserahi tugas membangun proyek itu yakni Jasa Marga, Hutama Karya, Wijaya Karya, dan Waskita Karya.
By. Editor Dikky Setiawan
Narasumber : Kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2587
Palembang -Hari ini, pembangunan proyek tol Trans Sumatera dimulai, untuk ruas Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api Api 434 km dengan kebutuhan dana Rp 40 triliun. Tol ini akan dilengkapi jalur kereta api dan pipa gas.
Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan groundbreaking tol di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (30/4/2015)
"Jalan yang akan kita bangun lebar. Di tengah jalan tol, di sampingnya kereta api, di sini untuk transmisi listrik. Bawahnya untuk pipa gas. Kita berpikir tak hanya 5-10 tahun ini bisa dipakai seratus tahun. Visi utama harus lebih seratus tahun," tegas Jokowi.
Acara ini dihadiri juga oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Lalu Menteri BUMN Rini Soemarno dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.
Jokowi ingin ruas tol ini selesai dalam waktu 3 tahun. Ada 4 BUMN yang bekerja bersama menggarap tol tersebut. BUMN itu adalah Jasa Marga, Waskita Karya, Wijaya Karya, dan Hutama Karya.
"Saya akan awasi terus agar bisa lebih cepat lagi. Dan tahun depan kita mulai yang Palembang ke Tanjung Api Api. Biar dilihat lapangannya dulu, karena Tanjung Api Api Insya Allah akan jadi pelabuhan besar yang di situ akan ada kawasan industri, yang tentu akan olah bahan mentah dari pertanian, perkebunan sehingga barang jadi. Nilai lebihnya siapa yang nikmati? Rakyat Sumsel," papar Jokowi.
Dalam rencana awal, pembangunan Tol Trans Sumatera dari Lampung ke Aceh bakal memiliki panjang 2.600 km mencakup 22 ruas, ada beberapa wilayah yang jadi prioritas pembangunan tol dan sebaliknya.
"Nanti kalau sambung dari Lampung-Palembang, naik lagi ke Jambi, naik lagi ke Pekanbaru, naik lagi ke Aceh selesai. Harga harga barang akan jatuh lebih murah. Karena transportasi lebih cepat," cetus Jokowi.
(dnl/hen)
By. Bagus Prihantoro Nugroho - detikfinance
Narasumber : Detik.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2881
Liputan6.com, Jakarta - Provinsi Jawa Barat terus dipacu sebagai salah satu pusat industri hulu hingga hilir yang strategis. Pembangunan infrastruktur berupa jalan tol, jaringan rel kereta api, pelabuhan dan bandara di sisi timur provinsi ini dinilai mempercepat pertumbuhan industri dan mampu menarik investasi.
Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin meyakini, dukungan infrastruktur-infrastruktur tersebut akan memperlancar lalu lintas logistik, barang modal dan menjadi pintu ekspor bagi produk industri di Jawa Barat.
"Dari beberapa kali bertemu dengan para investor, mereka punya minat kuat untuk membangun pabrik dan ekspansi ke sana. Jika sebelumnya industri Jabar terkonsentrasi di sebelah barat, seperti Bekasi-Karawang atau dekat-dekat Jakarta, ke depan mereka pasti akan mengarah ke timur karena infrastruktur sangat mendukung seperti jalan tol, pelabuhan dan bandara Kalijati di Majalengka," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/1/2016).
Beberapa penambahan sarana prasarana itu, kata Saleh, bisa menjadi magnet bagi masuknya investasi asing dan dalam negeri untuk mengembangkan industri hulu maupun hilir.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat dari 74 kawasan industri di Indonesia, 24 kawasan di antaranya berada di Jawa Barat.
Hasil survei Kemenperin pada 2013 itu juga menunjukkan kawasan industri di Jawa Barat paling banyak dibanding provinsi lainnya, seperti Kepulauan Riau dengan 11 kawasan industri, Banten dengan 10 kawasan industri, dan Jawa Tengah dengan 8 kawasan industri.
Dari sisi luas area, total kawasan industri Jawa Barat mencapai 14,3 ribu hektare (ha) atau 39,4 persen dari seluruh kawasan industri di Indonesia seluas 36,3 ribu ha.
Baca Juga
Pengembangan industri di Jawa Barat juga diharapkan meningkatkan lapangan kerja. Hingga 2014, terdapat beberapa industri besar sedang di provinsi ini, antara lain industri makanan sebanyak 1.037 perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 112 ribu orang, industri tekstil sebanyak 851 perusahaan dengan penyerapan terana kerja sebesar 254 ribu orang.
Selain itu, industri pakaian jadi (garmen) sebanyak 740 perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja 231 ribu orang, industri kulit dan alas kaki sebanyak 205 perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja 52 ribu orang, serta industri karet dan plastik sebanyak 390 perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja 104 ribu orang.
Sementara itu, Ketua Umum Forum Ekonomi Jawa Barat, Jajat Priatna Purwita mengatakan pihaknya memprediksi pacuan industri di Jawa Barat bakal mendongkrak pertumbuhan ekonomi di provinsi itu hingga menembus 7 persen.
"Jawa Barat bagian timur juga akan menyeimbangkan populasi industri yang selama ini lebih banyak di Jabar sisi barat-utara," tutur dia. (Dny/Nrm)*
By Septian Deny
Narasumber : Liputan6.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2882

Majalengka -Hari ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana meninjau proyek pembangunan bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Bandara ini memiliki landasan (runway) sepanjang 3.000 meter dengan lebar 60 meter.
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan mengatakan, bandara ini ditargetkan selesai 2018 dengan kapasitas penumpang hingga 20 juta per tahun.
"Ini saya dengan Bapak Gubernur Jawa Barat akan mendampingi Pak Presiden untuk tinjau pembangunan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka. Rencana pembangunan ini sudah dibuat pada awalnya tahun 2003, namun mulai dikerjakan fisik atas dukungan Pemprov Jabar mulai 2013 sampai sekarang. Dalam desain panjangnya runway 3.000 meter dengan lebar maksimal 60 meter ini runway sangat besar. Untuk ukuran internasional pun jarang ada runway sampai 60 meter," tutur Jonan di lokasi bandara, Kamis (14/1/2016).
Lebarnya landasan bandara ini membuatnya bisa didarati oleh pesawat jumbo, Airbus A380. Adanya bandara ini bisa menjadikan Majalengka sebagai kota mandiri secara komersial.
Hingga kini, pembangunan landasan bandara tersebut sudah mencapai 2.500 meter. Tidak ada masalah dalam pembebasan lahan.
(dnl/dnl)
By. Bagus Prihantoro Nugroho - detikfinance
Narasumber : Detik.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2697
Jakarta -Pemerintah lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah serius menggarap pembangunan Jalan Nasional Trans Papua, untuk menghubungkan berbagai kawasan di daratan Papua dan Papua Barat.
Ditemui di ruang kerjanya, Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, berbagi kisah tentang pembangunan jalan sepanjang 4.325 kilometer (km), yang menurutnya penuh tantangan.
Basuki berkisah tentang mahalnya biaya pembangunan jalan ini. Salah satunya adalah mahalnya biaya angkut alat berat seperti eskavator. "Kalau harga eskavator sekitar Rp 1,2 miliar, biaya angkutnya bisa Rp 2 miliar sendiri," tuturnya, saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (12/1/2016) malam.
Mahalnya biaya angkut, kata dia, disebabkan oleh minimnya akses ke lokasi pembangun yang sangat terpencil dan tidak memiliki akses jalan darat. "Seperti proyek yang sedang kita lakukan di Nduga (salah satu kabupaten di Papua), itu sekelilingnya hutan. Tidak ada jalan darat. Akses sangat terbatas sekali," sebutnya.
Untuk mengangkut peralatan tersebut, tim sampai harus menggunakan helikopter khusus yang disewa dari Rusia.
"Dan itu pun tidak satu kali jalan. Eskavator itu harus dipereteli dulu, baru diangkut pakai heli. Bisa 3 kali balik minimal. Helinya pun khusus didatangkan dari rusia.‎ Baru setelah di lokasi, eskavator dirakit lagi. Makanya biayanya mahal sekali," jelas Basuki.
Kondisi ini yang menggerakkan hati menteri yang mengawali karir sebagai staf Pegawai Negeri Sipil (PNS) biasa di Kementerian PU tersebut, untuk kian mempercepat proses pembangunan Jaln Trans Papua.
"Kita lihat kan dan kita rasakan sendiri barang-barang mahal karena angkutannya mahal. Makanya jalan darat ini harus dipercepat. Kalau sudah ada akses darat, barang-barang bisa diangkut dari darat. Biaya lebih murah," pungkasnya.
(dna/dnl)
Narasumber : Detik.com


















Semua Berita