- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2998
JAKARTA. Tahun politik rupanya berpengaruh bagi penjualan alat berat. Setidaknya ini yang dialami distributor alat berat, PT Gaya Makmur Tractors (GM Tractors). Di sepanjang semester satu tahun ini, realisasi penjualan alat berat Gaya Makmur melorot dibandingkan waktu yang sama tahun lalu.
Fahrudin, Marketing Communication Manager GM Tractors kepada KONTAN Rabu (30/7) menjelaskan, realisasi penjualan alat beratnya di semester satu tahun ini hanya sekitar 150 unit, atau 75% dari realisasi penjualan pada periode yang sama tahun lalu yakni sebanyak 200 unit. Ini berarti, semester I 2014, penjualan alat berat GM Tractors susut 25% jika dibandingkan dengan semester I 2013.
Menyusutnya penjualan ini salah satunya lantaran investor masih menunggu hasil pemilihan umum. Meskipun di sisi lain harga komoditas tambang seperti batubara tengah lesu, sehingga perusahaan penggali batubara juga mengurangi ekspansi bisnis mereka pada semester I lalu.
Namun, Presiden Direktur GM Tractors, Tjandi Mulyono berharap ini tidak terus berlarut. Ia memprediksi penjualan bisa merambat naik lagi pasca adanya kepastian pemimpin baru hasil pemilihan presiden 9 Juli mendatang. "Adanya pemilu secara tidak langsung ikut mempengaruhi sikap pelaku bisnis yang cenderung wait and see," ungkap.
Faktor lain yang mempengaruhi lesunya bisnis alat berat adalah gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Walhasil, perusahaan yang ingin membeli alat berat menunggu waktu agar nilai tukar stabil. Maklum pengusaha tentu tak mau ketiban rugi selisih kurs, karena semakin nilai tukar rupiah melemah, maka harga alat berat makin menanjak mahal.
Asal tahu saja, GM Tractors menargetkan penjualan alat berat sebanyak 1.000 unit tahun ini. Jika penjualan di semester satu tahun ini belum memuaskan, GM Tractors berharap penjualan di semester kedua bisa naik tinggi. "Pertumbuhan ekonomi masih ada, dan ini yang berimbas pada penjualan kami nantinya," harap Fahrudin.
Alat berat yang dijual GM Tractors antara lain merek Wirtgen, Vogele dan Hamm. GM Tractors juga menjadi distributor alat berat dari China, seperti merek Shantui, dan XCMG. Dari sisi segmen, perusahaan yang berdiri tahun 2005 ini menjual alat untuk konstruksi, perkebunan, kehutanan, pertambangan.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3025
Merdeka.com - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengisyaratkan bahwa tarif bea keluar konsentrat mineral ditetapkan sebesar 10 persen. Usulan tersebut sudah diterima oleh Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dan akan diajukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
(Bea keluar) Sekitar 10 persen, itu up and down, kata Hidayat selepas rapat koordinasi pemerintah di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (4/7).
Sayang, Hidayat tidak bisa memastikan kapan tarif baru bea keluar tersebut bakal diumumkan. Namun, dia mengisyaratkan pengumuman tersebut kemungkinan setelah rapat kabinet terbatas terdekat.
Kalau presiden setuju, mustinya minggu depan, ujarnya
Menurutnya, jika tarif bea keluar itu sudah keluar, maka perusahaan tambang bisa melakukan ekspor. Seperti diketahui, aturan soal bea keluar yang lama membuat pemerintah berselisih dengan dua perusahaan tambang multinasional, Freeport Indonesia dan Newmont Nusa Tenggara.
Bahkan, Newmont berani membawa perselisihan ini ke badan arbitrase internasional. Langkah pemilik tambang tembaga di Batu Hijau ini sangat disesalkan oleh Hidayat.
Mungkin dia sudah enggak sabar, atau dapat pressure internal (dari perusahaan induk).
Sebenarnya, menurut Hidayat, Newmont atau Freeport tidak dilarang untuk mengekspor produk tambangnya. Hanya saja, pemerintah bakal mengenakan bea keluar progresif hingga 25 persen jika produk tambangnya tak banyak melalui proses pemurnian.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2769
JAKARTA. Harga tembaga menunjukkan reli selama dua minggu terakhir. Secara fundamental dan teknikal, laju tembaga masih bullish.
Mengutip Bloomberg, Selasa (1/7), kontrak tembaga pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berada pada level US$ 7.013 per metrik ton. Harga tembaga turun tipis dibanding hari sebelumnya di US$ 7.015 per metrik ton. Meski demikian, tembaga membukukan kenaikan 4,5% dalam dua pekan terakhir. Dalam sepekan, tembaga naik 1,8%.
Ibrahim, analis komoditas dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka (EKB) menjelaskan, faktor pemicu lonjakan harga tembaga karena positifnya data PMI manufaktur China bulan Juni 2014 sebesar 51. Angka ini lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 50,8. Sebelumnya, survey HSBC menunjukkan PMI manufaktur di level 50,7. Angka di atas 50 menandakan adanya ekspansi.
"China merupakan pengguna tembaga terbesar. Positifnya data manufaktur ikut menguntungkan tembaga," ujar Ibrahim.
Faktor penopang lainnya, lanjut Ibrahim, disebabkan eskalasi ketegangan geopolitik di Ukraina yang kembali memanas. Untuk diketahui, tenggat waktu gencatan senjata antara Rusia dengan Ukraina telah habis. Selanjutnya, Uni Eropa mengultimatum Rusia untuk meninggalkan Ukraina dalam waktu tiga hari. Di saat yang bersamaan, Presiden Ukraina juga mengungkapkan kekhawatiran akan mencuatnya perang saudara.
Rusia dan Ukraina merupakan eksportir tembaga. Adanya konflik geopolitik ini mengakibatkan terganggunya pasokan tembaga. Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh Bursa LME dan Bursa AS yang mengatakan bahwa saat ini sedang terjadi defisit tembaga.
Kenaikan harga tembaga juga diperkuat oleh kebijakan Bank Sentral AS, The Fed. The Fed menegaskan akan mempertahankan suku bunga rendah dalam waktu cukup lama. "Hal ini menggerus kinerja dollar, sehingga mendukung kenaikan harga tembaga," imbuh Ibrahim.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3250
JAKARTA. Harga tembaga melaju ke level tertinggi dalam empat pekan. Spekulasi peningkatan permintaan tembaga seiring pemulihan ekonomi AS ikut mendongkrak harga tembaga.
Mengutip Bloomberg, kemarin (26/6), kontrak tembaga pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,5% menjadi US$ 6.951,25 per metrik ton. Ini merupakan level tertinggi sejak 28 Mei 2014.
Persediaan tembaga yang dipantau bursa utama di London, Shanghai dan New York, turun 51% sepanjang tahun ini. Ini merupakan stok level terendah sejak Oktober 2008.
Pemulihan ekonomi AS diperkirakan mampu mengerek permintaan tembaga. Sebab, AS merupakan pengguna tembaga terbesar kedua di dunia. "Investor melihat perekonomian AS semakin membaik pasca cuaca buruk di kuartal pertama," kata Kazuhiko Saito, analis Fujitomi Co, broker komoditas di Tokyo.
Ibrahim, analis komoditas dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, menilai, kenaikan harga tembaga kemarin dipengaruhi data ekonomi AS yang dirilis Rabu malam (25/6) yaitu data pemesanan barang tahan lama (durable goods order) pada Juni 2014 dan pendapatan domestik bruto (PDB) AS kuartal I-2014 yang hasilnya kurang memuaskan. "Data ini melemahkan dollar AS, sehingga mendukung kenaikan harga tembaga," ungkap Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, harga tembaga juga diuntungkan faktor geopolitik di Ukraina. Periode 21 Juni-28 Juni, Rusia menggelar latihan militer gabungan dengan pasukan Crimea dan mengultimatum Ukraina. Eskalasi ketegangan ini memberikan sentimen positif terhadap harga tembaga.
Wahyu Tribowo Laksono, analis PT Central Capital Futures, menuturkan, harga tembaga terangkat karena data manufaktur PMI China yang membukukan angka 50,8 ini melampaui estimasi sebesar 49,7. Angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi di Tiongkok. "Ada harapan pulihnya ekonomi China, AS dan Eropa. Meski tidak sebaik sebelum krisis ekonomi global," ujar Wahyu. Namun, ia menilai laju harga tembaga masih tertahan lantaran saat ini stok di China masih mencukupi.
Secara teknikal, Wahyu bilang harga tembaga menunjukkan pergerakan up trend. Harga berada di atas moving average (MA) 50 dan MA 100, tapi masih berada di bawah MA 200. Moving average convergence divergence (MACD) sudah beranjak ke area positif 22. Indikator stochastic telah memasuki area jenuh beli (overbought) di level 91%. Sementara relative strength index (RSI) berada di level 61,8%.
Wahyu memprediksi, harga tembaga sepekan mendatang akan bergerak di kisaran US$ 6.700-US$ 7.080 per metrik ton. Sementara Ibrahim menduga harga tembaga sepekan bergerak di level US$ 6.900 sampai US$ 7.080 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3034
JAKARTA. Harga patokan ekspor (HPE) produk pertambangan Juli 2014 telah ditetapkan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kamis (26/6). Harga yang ditetapkan secara berkala ini mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 29/M-DAG/PER/6/2014 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertambangan Hasil Pengolahan yang Dikenakan Bea Keluar.
Bachrul Chairi, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag bilang, penetapan HPE periode Juli 2014 dilakukan setelah memperhatikan usulan tertulis dan hasil rapat koordinasi dengan instansi-instansi teknis terkait. "Khususnya menyikapi perkembangan harga komoditas baik nasional maupun internasional," terang Bachrul lewat siaran pers, Jumat (27/6).
Produk pertambangan hasil pengolahan yang dikenakan bea keluar adalah konsentrat tembaga, seng, dan konsentrat timbal. Selain itu, ada juga konsentrat besi, mangan, ilmenite, serta konsentrat titanium lainnya. Harga dasar perhitungan HPE bersumber dari Asian Metal. Acuan ini untuk penetapan harga dasar konsentrat besi dan konsentrat mangan. Sedangkan konsentrat tembaga, konsentrat timbal, serta konsentrat seng mengacu dari London Metal Exchange (LME).
Sebagai perbandingan HPE bulan sebelumnya, sebagian besar HPE Juli 2014 menurun. Harga rata-rata tembaga (Cu ≥ 15%) US$ 1.857,20 per ton alias wet metric ton (WMT) turun 0,42%. Sementara bijih besi (gutit/laterit) (Fe ≥ 51% dan (Al2O3 + SiO3) ≥ 10%) harga rata-rata US$ 27,35 per WMT turun 19,03%.
Adapun konsentrat mangan (Mn ≥ 49%) yang biasanya US$ 169,46 per WMT anjlok 4,17% dan timbal (Pb ≥ 57%) di harga rata-rata US$ 867,17/WMT merosot 0,51%. Sedangkan konsentrat yang naik dibandingkan HPE Juni 2014 antara lain seng (Zn ≥ 52%) di harga rata-rata US$ 501,56 per WMT atau naik 1,65%. Harga dasar bijih besi (hematit, magnetit, pirit) (Fe ≥ 62%), ilminate, dan konsentrat titanium lainnya tak berubah.
"Peningkatan dan penurunan HPE produk pertambangan hasil pengolahan disebabkan adanya fluktuasi harga internasional pada komoditi pertambangan tersebut," jelas Bachrul.

















Semua Berita