- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3120
Harga timah di Bursa KLTM pada perdagangan hari ini (7/8) terpantu ditutup melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan harga timah ini dipicu oleh tekanan dari menguatnya tensi antara Russia-Ukraina.
Pelemahan di bursa KLTM ini tidak mengikuti trend perdagangan di London Metal Exchange yang mengalami kenaikan harga diakhir penutupan perdagangan semalam. Sebelumnya dalam tiga hari berturut-turut harga timah di LME mengalami penurunan. Kenaikan harga timah ini dikarenakan faktor teknikal setelah penurunan harga selama tiga hari berturut-turut.
Pada perdagangan hari ini di Bursa KLTM, harga timah terpantau ditutup melemah ke tingkat harga $22.380/ton atau turun $20/ton, sedangkan harga perdagangan di bursa LME semalam khususnya timah berjangka untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik ke tingkat harga $22.450 atau naik $95/ton.
Untuk pergerakan harga timah di bursa LME malam ini, Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga timah akan mengikuti jejak pelemahan di bursa KLTM seiring pasar komoditi internasional sedang fokus kepada tensi geopolitik yang cukup tinggi di kawasan Ukraina.
Afif Bahar/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia
Narasumber : vibiznews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2988
Liputan6.com, Jakarta - Mulai 1 September 2014, pengusaha batu bara yang ingin mengekspor harus menjadi eksportir terdaftar. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 39 Tahun 2014 yang mengatur tentang eksportir terdaftar batu bara.
Staf Ahli Bidang Manajemen Kementerian Perdagangan Junaidi mengatakan, Peraturan Menteri tersebut baru ditandatangani pada 14 Juli 2014.
Menurut dia, hal ini baru pertama kali dilakukan Kementerian Perdagangan, karena sebelumnya baru komoditas timah yang diatur eksportir terdaftarnya.
"Khusus batu bara eksportir terdaftarnya ini pertama, untuk timah sudah lama, tapi ini pertamakali Kementerian Perdagangan mengatur eksportir terdaftar, baik produsen dan non produsen," kata Junaidi, saat menggelar sosialisasi di Hotel Arya Duta, Jakarta, Kamis (7/8/2014).
Junaidi berharap, dengan adanya peraturan yang ditandatangani Menteri Perdagangan M Lutfi tersebut meningkatkan ekspor tetapi terdeteksi.
"Mudah-mudahan dengan ini ekspor meningkat tapi terdeteksi," ungkapnya.
Juanidi menambahkan, dengan Peraturan yang mulai berlaku 1 September 2014 tersebut membuat proses ekspor batu bara lancar dan tertib.
Semua proses ekspor nantinya menggunakan unit pelayanan perdagangan, terhubung perizinan satu pintu ( national singel window).
"Apa yang sudah diekspor tolong dilaporkan, cukup elektronik. Juga surveyor kerja profesional, karena sudah ditetapakan ditunjuk kemendag, ini amanah tolong laksanakan dengan sebaiknya," tutur dia.
Namun menurut Junaidi, para pengusaha tidak boleh terlena dengan memproduksi batu bara secara besar-besaran, karena komoditas tersebut merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan.
"Kita kedua setelah Australia (produksi batubara), kita bangga tapi jangan terlena. Kita lihat migas, kita senang sekali menjadi anggota OPEC (organinasi pedagang minyak dunia), tetapi harus disadari batu bara tidak terbarukan kita atur bersama, ini karunia Tuhan tidak semua negara memiliki seperti yang dimiliki Indonesia," pungkasnya.(Pew/Nrm)
Narasumber : liputan6.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2904
JAKARTA. Harga timah terperosok dalam dua pekan terakhir. Namun data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China yang positif berpotensi mengerek harga timah dalam jangka pendek. Harga juga bisa terangkat jika konflik geopolitik di Ukraina semakin memanas.
Mengutip Bloomberg, Jumat (18/7), harga timah kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berada di level US$ 22.100 per metrik ton. Harga turun 0,11% dibanding hari sebelumnya. Timah tergelincir 2,9% dalam dua pekan terakhir.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka mengatakan, harga timah berpotensi naik terbatas dalam jangka pendek. PDB China kuartal II-2014 menunjukkan angka positif 7,5% atau lebih baik dari estimasi 7,4%. Ini memberikan sentimen positif bagi timah. Namun, efeknya hanya sementara. Secara jangka panjang, timah masih dibayangi tekanan yang berasal dari prediksi Goldman Sachs yang mengatakan bahwa kebutuhan terhadap komoditas akan melambat pada tahun 2015-2016. “Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan masih akan mengalami perlambatan. Kondisi ini dikhawatirkan mengurangi permintaan terhadap komoditas, termasuk timah,†jelas Ibrahim.
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, harga timah masih kesulitan naik karena stok di negara produsen seperti Indonesia masih cukup banyak. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 32, ekspor timah batangan diwajibkan melalui bursa. Nantinya, ekspor timah dalam bentuk lain atau soldier juga akan diwajibkan melalui bursa. Diperkirakan, stok semakin menumpuk pada kuartal IV-2014. Aturan ini bertujuan untuk menekan ekspor timah ilegal yang tidak jelas asal usulnya.
Meskipun masih dalam tren penurunan, harga timah bisa melambung apabila tensi geopolitik di Ukraina kembali mencuat. Setelah konflik sempat mereda, kabar terbaru, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia terkait penembakan pesawat Malaysia Airlines oleh pemberontak pro Rusia.
Namun, belum ada kepastian sanksi apa yang akan diberikan. Uni Eropa tampak berhati-hati dalam menjatuhkan sanksi. Sebab, Uni Eropa sangat bergantung pada Rusia sebagai pemasok komoditas. Apabila sanksi berkaitan dengan embargo, maka Rusia sebagai penghasil komoditas tidak dapat mengekspor nikel, tembaga, minyak mentah, timah dan gas. “Ketegangan geopolitik berpotensi menguatkan harga. Namun hal ini belum didukung secara teknikal,†imbuhnya.
Secara teknikal, pergerakan harga relatif downtrend. Hal itu ditunjukkan oleh bollinger band yang berada 70% di atas bollinger bawah. Moving average juga berada 70% di atas bollinger bawah. Baik bollinger band dan moving average memperlihatkan timah belum mampu menanjak.
Indikator lainnya yaitu moving average convergence divergence (MACD) berada 60% dengan pergerakan negatif. Stochastic berada 70% di area positif. Sementara relative strength index (RSI) berada 60% di zona positif. Tiga indikator menunjukkan pergerakan turun. Dan dua indikator lainnya mendukung kenaikan timah.
Ibrahim bilang harga timah masih dibayangi tekanan. Dalam sepekan ke depan, timah akan bergerak di kisaran US$ 22.000-US$ 22.180 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3190
JAKARTA. Kerjasama strategis antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dengan perusahaan Australia, Direct Nickel (DNi) dalam pembangunan pabrik pengolahan nikel mencapai nilai US$ 800 juta-US$ 1 miliar.
Djaja M. Tambunan, Direktur Keuangan Antam mengatakan, dengan kebutuhan investasi sebesar itu mayoritas akan dipenuhi oleh DNi. "Kita mungkin hanya akan penuhi 15% saja, karena porsi saham kita di sana minoritas," katanya di Jakarta, Jumat (18/7).
Pada Januari lalu, DNi mengumumkan bakal bersama Antam membangun pabrik pengolahan Nikel di Buli, Halmahera, Maluku Utara. Pabrik yang akan mampu memproduksi 10.000-20.000 ton konsentrat nikel per tahun ini dibangun berdekatan dengan salah satu megaproyek Antam, yakni Feronikel Halmahera Timur (FeNi Haltim).
Rencana tersebut, bahkan telah diungkapkan secara resmi oleh DNi kepada Bursa Efek Australia (ASX). Sebagai langkah awal, kedua belah pihak telah mulai melakukan studi kelayakan di pabrik pengolahan DNi yang berada di Buli.
Studi kelayakan tersebut ditargetkan selesai pada awal 2015 mendatang. DNi menyatakan pembangunan itu merupakan respon atas penerapan larangan ekspor bijih nikel oleh Pemerintah Indonesia.
Kebijakan ini tentu akan berpengaruh pada negara-negara importir bijih nikel besar seperti China. DNi menilai persediaan bijih nikel di sana akan menipis di tahun ini sebagai imbas dari kebijakan Indonesia.
Maklum saja sekitar 20% pasokan bijih nikel berasal dari Indonesia. Nah, DNi bersama Antam ingin mengail peluang dengan mengekspor konsentrat nikel ke negara-negara yang tadinya banyak mengimpor bijih nikel dari Indonesia.
Pasalnya, konsentrat nikel, diklaim DNi, tidak terkena larangan ekspor Pemerintah Indonesia. Rencana pembangunan pabrik ini merupakan puncak dari serangkaian kerjasama antaran Antam dengan DNi.
Kedua belah pihak pertama kali menjajaki kerjasama sekitar lima tahun lalu ketika Undang-undang No 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara dirilis. Pada 22 Juli 2013 lalu, Antam dan DNi pertama kali menandatangani kerjasama secara resmi dalam hal operasi pengujian pabrik (test plant) di Perth, Australia.
Antam menyumbang 200 nikel laterit untuk kemudian diolah menjadi nickel mixed hydroxide di pabrik milik DNi tersebut. Kendati begitu, Djaja enggan mengungkapkan, kapan pabrik pengolahan nikel hasil kerjasama dengan DNI tersebut akan mulai dibangun. "Semua terserah DNi, karena mereka yang cari dana untuk itu," jelas Djaja.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3320
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah sektor industri dipastikan akan terkena dampak rencana pemerintah untuk menaikkan tarif royalti batubara.
Selain produsen batubara kecil yang diperkirakan banyak yang akan gulung tikar, rencana tersebut juga berdampak pada bisnis perusahaan yang menjual alat-alat berat serta perusahaan pembiayaan alat-alat berat yang cenderung melemah.
Memang sektor pertambangan yang selama ini menjadi bisnis primadona terlihat melemah sejak 2013 lalu yang terus berlanjut hingga pertengahan 2014.
Salah satu penyebabnya adalah harga batubara yang belum kunjung membaik dan beberapa kebijakan di sektor pertambangan juga turut membuat sektor ini kehilangan gairah. Salah satunya regulasi hilirisasi mineral yang melarangan ekspor barang mineral yang diimplementasikan pada awal 2014.
Kinerja kurang menarik dari industri pertambangan ini tentu saja berimbas pada penjualan alat berat. Kondisi ini semakin diperparah jika pemerintah menaikkan tarif royalti batubara.
"Meski tidak secara langsung, kondisi tersebut berimbas pada penjualan alat berat yang mengalami tekanan khusus di sektor pertambangan pada tahun ini,†ujar Sara K Loebis, Corporate Secretary United Tractors, Selasa (15/7/2014).
Sara mengakui bahwa dirinya belum memiliki data konkrit mengenai dampak dari rencana penaikan tarif royalti batubara. Pasalnya, semua tergantung dari rencana produksi dari produsen batubara. “Bagi kami yang menjual alat-alat berat, dampak tersebut terasa tidak secara langsung. Yang pasti, kondisi saat ini, kami hanya mengganti alat-alat berat yang sudah usang,†ujarnya.
Sebagaimana diketahui, akhirnya pemerintah tetap menyorongkan rencana kenaikan tarif royalti batubara, setelah sempat menunda rencana ini beberapa waktu lalu. Saat ini, rumusan rencana tersebut tengah dituntaskan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan akan segera disampaikan ke Menteri Koordinator Perekonomian.
Rumusan Kementerian ESDM menyepakati untuk mengerek besaran tarif royalti secara progresif ketika harga batubara acuan (HBA) menembus 80 dolar AS per ton akan dikenakan pungutan windfall (keuntungan).
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9/2012 tentang Penerimaan Negara Non-Pajak di Kementerian ESDM menetapkan beberapa tarif royalti batubara. Tarif royalti batubara untuk izin usaha pertambangan (IUP) berkalori rendah atawa di bawah 5.100 kilo kalori per kilogram (kkal/kg) sebesar 3 persen dari harga jual. Tarif royalti batubara kualitas sedang kadar 5.100 kkal/kg hingga 6.100 kkal/kg sebesar 5 persen dari harga jual.
Sedangkan tarif royalti batubara kualitas tinggi atau di atas 6.100 kkal/kg mencapai 7 persen dari harga jual. Sementara, tarif royalti plus pengembangan batubara pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) dipungut rata 13,5 persen dari harga jual.
Dengan kondisi seperti itu, lanjut Sara, tahun ini United Tractors telah mengalihkan fokus penjualan ke sektor di luar mining, yakni konstruksi, perkebunan dan kehutanan. Pengalihan ini tak lepas dari kondisi tahun 2013 lalu dimana United Tractors hanya menjual 4.200 unit alat-alat berat.
Karena itu, kata Sara tahun ini tidak ada target pertumbuhan penjualan alat-alat berat di sektor mining. Sedangkan untuk sektor di konstruksi, perkebunan, dan kehutanan ditargetkan akan mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5 persen.
Dari penjelasan Sara di atas menunjukkan bahwa kinerja sektor pertambangan yang melemah ini sangat dirasakan oleh pada penjualan alat berat. Kondisi ini, tentu akan berimbas pula pada bisnis pembiayaan alat berat. Tahun lalu, data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia menunjukkan bahwa bisnis pembiayaan alat berat turun hingga 35 persen. Sedangkan tahun ini, banyak yang memprediksi akan ada penurunan yang cukup besar, meski ada harapan pertumbuhan di kisaran 30-35 persen.
Di sisi lain, data asosiasi juga memperlihatkan bahwa sejak 2011 hingga saat ini pembiayaan alat berat untuk sektor pertambangan masih dominan. Bahkan pada 2011 dan 2013 menguasai lebih dari 50 persen pembiayaan alat berat. Namun, seiring meredupnya sektor pertambangan sejak 2013, dominasi tersebut mulai turun meski tidak signifikan. Pasalnya, kue di sektor lain belum mampu menggantikan pendapatan di sektor pertambangan.
Kondisi ini membuat masing-masing perusahaan pembiayaan telah menyiapkan strategi khusus. Ada yang masih tetap konsisten dengan syarat konsumen mempunyai alternatif ke sektor lain. Atau tetap membiayai alat berat di sektor pertambangan tetapi dengan hitungan risiko yang terukur.
Narasumber : tribunnews.com

















Semua Berita