|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Kamis, 23 Mei 2013 15:52 |
|
BEIJING. Sebagian besar mata uang Asia melemah pagi ini. Pasalnya, data manufaktur China merosot sehingga menyuntikkan kecemasan akan ekonomi China. Selain itu, kemungkinan Federal Reserve mengerem stimulus juga memberi tekanan bagi mata uang Asia.
Pada pukul 11.00 WIB, nilai tukar won Korea terkoreksi 0,6% ke 1.123,21 per dollar. Peso Filipina melemah 0,8% ke, ringgit Malaysia melemah 0,4%. Dollar Singapura juga melemah 0,5% ke 1,2674 per dollar AS.
Di saat yang sama, rupiah melemah 0,4% ke 9.808 per dollar AS.
Pelemahan ini terjadi setelah semalam Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke berkata bahwa pemulihan ekonomi berlanjut. Fed dapat mengurangi pembelian obligasinya dalam beberapa rapat mendatang. Ia juga memperingatkan bahwa menahan bunga terlalu rendah untuk waktu yang terlalu lama itu berisiko.
Sementara hari ini, indeks HSBC Purchasing Managers China bulan Mei turun ke 49,6. Bulan lalu, indeks ini masih berada di atas 50,6. Angka 50 merupakan batas pemisah antara ekspansi dan kontraksi. Semakin jauh dari 50 menandakan ekonomi semakin melambat.
"Bagi mata uang Asia, hari-hari dollar murah sudah jelas berakhir dan penurunan lebih lanjut diprediksi bagi mata uang Asia. Kita akan melihat memontum pelemahan bertambah di Juni dan Juli," kata Suresh Kumar Ramathan, Head of Regional Interest Rate dan FX strategy CIMB Investment Bank di Kuala Lumpur.
Narasumber : kontan.co.id
|
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Kamis, 23 Mei 2013 12:56 |
|
BISNIS.COM, JAKARTA—Dolar Amerika Serikat menguat terhadap seluruh mata uang Asia hari ini, Kamis (23/5/2013), setelah The Fed (Bank Sentral AS) mengetatkan stimulus finansial dengan mengurangi pembelian obligasi.
Kebijak The Fed memicu sentimen negatif bagi Bursa AS yang ditutup melemah dan merembet ke Asia, sehingga investor kini mulai berpaling ke dolar. Itulah yang membuat kurs dolar menguat
terhadap semua mata uang Asia.
“Ekspektasi pengurangan pembelian obligasi memicu aksi borong dolar,” ujar Masato Yanagiya, Pialang Valas Sumitomo Mitsui Banking Corp di New York.
Imbas dari menguatnya dolar AS membuat rupiah terpuruk karena melemah 0,24% ke Rp9.793/US$ pada pukul 8:40:03 WIB.
Kurs dolar AS terhadap Mata Uang Asia Kami 23 Mei 2013
|
Valas
|
Kurs
|
%
|
WIB
|
|
$ Australia
|
0,9638
|
+0,63%
|
8:59:05
|
|
$ Selandia Baru
|
0,8038
|
+0,50%
|
8:59:59
|
|
Yen
|
103,36
|
+0,19%
|
8:59:05
|
|
$ Hong Kong
|
7,7625
|
+0,02%
|
8:56:09
|
|
$ Singapura
|
1,2675
|
+0,06%
|
8:59:19
|
|
$ Taiwan
|
29,9440
|
+0,44%
|
8:59:42
|
|
Won
|
1.122,10
|
+0,75%
|
8:57:28
|
|
Peso
|
41,3820
|
+0,36%
|
8:55:01
|
|
Rupiah
|
9.793,00
|
+0,24%
|
8:40:03
|
|
Yuan
|
6,1357
|
+0,07%
|
8:57:09
|
|
Ringgi
|
3,0345
|
+0,43%
|
8:54:46
|
|
Baht
|
29,920
|
+0,10%
|
8:59:35
|
Sumber: Bloomberg
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Kamis, 23 Mei 2013 12:50 |
|
BISNIS.COM, JAKARTA -- Pelaku bisnis menargetkan pertumbuhan industri non migas (manufaktur) sepanjang tahun ini sekitar 6,2 %.
Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto mengatakan pemerintah terlalu dini melakukan koreksi terhadap pertumbuhan industri manufaktur yang sebelumnya dipatok sebesar 7,14 %.
“Namun, kalau dari kami memprediksi, pertumbuhan sebesar 6,2 % tahun ini sudah cukup bagus,” kata Suryo ketika dihubungi Bisnis, Kamis (23/5).
Menurutnya, pertumbuhan masih bisa terjaga dengan baik apabila pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi industri. “Hal tersebut masih bisa diusahakan.”
Sama halnya dengan Suryo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan bila pertumbuhan industri manufaktur sepanjang tahun ini bisa mencapai 6,2 %, itu sudah merupakan pencapaian yang bagus. Pertumbuhan tersebut sama dengan target pertumbuhan ekonomi tahun ini, 6,2 %.
Menurutnya, langkah pemerintah untuk melakukan koreksi target pertumbuhan industri manufaktur tahun ini cukup tepat. Pasalnya, angka yang dipatok pemerintah sebelumnya terlalu tinggi bila melihat kenyataan saat ini. “Kalau bisa tumbuh 6,2 % sudah cukup bagus,” ujarnya. (bas)(Foto:geo.de)
Editor : Bambang Supriyanto
Narasumber : bisnis.com
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Kamis, 23 Mei 2013 10:58 |
|
JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) kembali menguat. Para analis memprediksi, aksi beli di harga murah ketika harga telah terkoreksi, kembali mengangkat harga CPO.
Harga CPO untuk kontrak pengiriman Agustus, kemarin (22/5) pukul 18.15 WIB, di Bursa Derivative Malaysia naik 1,03% menjadi RM 2.359 per ton dibanding harga sehari sebelumnya. Ini merupakan harga tertinggi CPO dalam sebulan terakhir.
Ariston Tjendra, analis Monex Investindo Futures mengatakan, selain tertopang oleh aksi beli di harga murah, kenaikan harga CPO saat ini juga ditopang oleh ekspektasi permintaan CPO akan meningkat jelang Ramadan.
Data Dewan Sawit Malaysia melaporkan, persediaan CPO pada April lalu tercatat turun 27% menjadi 1,93 juta ton dari rekor tertinggi di Desember 2012. Survei Bloomberg juga menunjukkan, persediaan CPO di Indonesia kemungkinan akan turun menjadi 2,8 juta ton di April. Angka itu merupakan yang terendah sejak Oktober 2012.
Melanjutkan rebound
Ariston bilang, sebenarnya saat ini harga CPO mengalami banyak tekanan. Tekanan pertama, datang dari penguatan dollar AS yang telah menekan harga komoditas dunia, termasuk CPO. Tekanan kedua, berasal dari kekhawatiran pasar bahwa penurunan ekspor CPO Malaysia belakangan ini akan membuat stok CPO melimpah. "Namun, ekspektasi permintaan naik jelang Ramadan bisa jadi obat penawar," kata dia.
Renji Betari, peneliti dari Divisi Riset dan Pengembangan Jakarta Futures Exchange memprediksi, dalam beberapa hari ke depan, harga CPO masih melanjutkan rebound.
Secara teknikal, indikator moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif dan cenderung bergerak membuka ke atas. Ini menunjukkan potensi penguatan masih akan tetap berlanjut.
Sinyal penguatan juga ditunjukkan oleh indikator stochastic yang baru masuk ke garis overbought. Inidan menandakan kenaikan harga akan berlanjut. Relative strength index (RSI) saat ini berada di level 55 dan belum memasuki area overbought ataupun oversold, menunjukkan harga juga masih akan bergerak ke atas.
Ariston menduga, sepekan ke depan, harga CPO akan bergerak di RM 2.293-RM 2.400 per ton. Proyeksi Renji, harga CPO akan naik ke RM 2.400- RM 2.450 per ton.
Narasumber : kontan.co.id
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Rabu, 22 Mei 2013 15:59 |
|
TOKYO. Dollar AS melemah untuk hari ketiga versus euro. Situs Bloomberg mencatat, pada pukul 09.27 waktu Tokyo, dollar AS melemah 0,2% menjadi US$ 1,2935. Sebelumnya, dalam dua hari terakhir, pelemahan dollar sudah mencapai 0,5%.
Nilai tukar dollar juga berada di posisi 102,47 yen dari level 102,50 kemarin. Sedangkan mata uang Jepang melemah 0,2% menjadi 132,54 per euro.
Pelemahan dollar AS ini terjadi sebelum pimpinan the Federal Reserve Ben S Bernanke malakukan pidato di hadapan Kongres AS. Pelaku pasar memprediksi, Bernanke belum akan menghentikan kebijakan stimulusnya dalam waktu dekat.
"Bernanke sepertinya akan terus melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter. Pasar kemungkinan akan merespon pernyataan Bernanke dengan menjual dollar AS," ujar Takuya Kawabata, analis Gaitame.com Research Institute Ltd di Tokyo.
Narasumber : kontan.co.id
|
|
|