Iklan Banner Platinum
| Arah Harga Batubara Menanti Data AS |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Rabu, 03 Maret 2010 09:56 |
|
HARGA KOMODITAS JAKARTA. Harga batubara terus mencatatkan penguatan dalam dua pekan terakhir. Akhir pekan lalu, harga si hitam di Newcastle Weekly Index naik menjadi US$ 96,43 per ton. Dus, harga batubara sudah naik 2,6% ketimbang akhir pekan lalu, yang sebesar US$ 93,98 per ton. Sementara, dua hari lalu (1/3), harga kontrak batubara untuk pengiriman April 2010 di Intercontinental Exchange mencapai US$ 94,3 per ton. Harga kontrak batubara ini naik dibanding pekan lalu, yang sebesar US$ 92,25 per ton. "Kenaikan harga batubara seiring menguatnya harga minyak," kata analis Askap Futures Ibrahim, kemarin. Minyak yang menjadi barometer pergerakan harga komoditas memang menguat. Cuma, penguatan harganya belum stabil. Kemarin, hingga pukul 16.25 WIB, harga minyak jenis Western Texas Intermediate (WTI) sebesar US$ 78,44 per barel. Berarti, melorot tipis dari posisi harga sehari sebelumnya, sebesar US$ 78,70 per barel. Para analis memperkirakan, penurunan harga minyak disebabkan oleh kenaikan stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS) dalam lima pekan terakhir. Fenomena ini mengindikasikan bahwa permintaan AS terhadap barang komoditas masih melambat. Survei Bloomberg mengungkapkan, kemungkinan, stok minyak AS naik 1,5 juta barel, dari angka sebelumnya 337,5 juta barel. Rencananya, Departemen Energi AS akan mengeluarkan laporan cadangan minyak pada hari ini. Tapi, Ibrahim melihat, harga batubara masih dalam tren naik, dan bertahan di US$ 95 per ton. "Tapi, jika harga minyak turun, batubara bisa terkoreksi ke US$ 91," katanya. Analis Indosukses Futures Herry Setyawan mengatakan bahwa saat ini harga batubara tengah memasuki masa konsolidasi. "Pasar masih menunggu data ekonomi yang menjadi acuan," katanya. Salah satunya adalah data pengangguran AS. Namun, Herry bilang, harga batubara saat ini banyak digerakkan para spekulan yang mengharapkan pemulihan ekonomi. Ia menaksir, harga batubara akan bergerak di US$ 90–US$ 100 per ton. "Permintaan barang komoditas belum banyak," katanya. Narasumber : Wahyu Tri Rahmawati - Kontan Online |




