|
BRUSSELS – Perekonomian zona euro pada kuartal II/2012 masih terbebani
dampak krisis utang dan upaya penghematan sehingga menyebabkan kontraksi
sebesar 0,2%.
Pada laporan terbaru yang
dirilis kemarin, Badan Statistik Eropa (Eurostat) juga menyata kan bahwa
pertumbuhan ekonomi zona euro di kuartal I/2012 direvisi menjadi 0%
dari sebelumnya minus 0,1%. “Apa yang dilihat hari ini (kemarin) adalah
imbas dari adanya pemangkasan anggaran dan tingginya suku bunga dalam
imbal hasil utang pemerintah. Ini terus menimbulkan ketidakpastian bagi
investor,” kata ekonom ABN AMRO Aline Schuiling dikutip Reuters kemarin.
Pada saat yang sama, Badan Statistik Jerman Destastis kemarin
merilis pertumbuhan eko nomi negara itu pada kuartal II/2012 di luar
perkiraan naik 0,3% dipicu membaiknya ekspor dan meningkatnya permintaan
domestik. Kinerja ekonomi negara dengan perekonomian ter besar di Eropa
itu mengalahkan prediksi analis yang mem perkirakan pertumbuhan hanya
0,2%. Kendati demikian, pencapaian pada periode April– Juni 2012 itu
masih lebih rendah dibanding kuartal sebelum nya yang tumbuh 0,5%.
Masih
rendahnya pertumbuhan ekonomi Jerman merupakan dampak jangka panjang
dari krisis utang zona euro yang menekan hampir seluruh negara di
kawasan itu. Beberapa negara bahkan masih ada yang terjerumus ke jurang
resesi karena beban utang yang masih tinggi disertai jumlah pengangguran
yang terus meningkat. “Data positif Jerman datang dari belanja konsumen
dan perdagangan luar negeri,” ujar badan statistik Jerman Des tatis,
dikutip AFP kemarin.
Berdasarkan data awal yang dirilis
Destatis, ekspor Jerman tumbuh lebih cepat dibanding impor. Tetapi,
sektor belanja publik pemerintah dan belanja swasta masih lebih rendah
dibanding kuartal sebelumnya. “Ekonomi kuartal yang baru berlalu
tertolong konsumsi domestik meski investasi menurun,” kata Destatis.
Menurut data Destatis, ekspor Jerman mulai menunjukkan kecepatan dengan
tumbuh 4,1% pada Mei lalu dan turun 1,5% pada bulan selanjutnya.
Penurunan
ekspor disebabkan minimnya pengiriman barang ke 16 negara mitra di zona
euro. Di sisi impor–yang menjadi indikator konsumsi domestik–pada
kuartal II/2012 turun 2,9%. Di bagian lain, Kementerian Perekonomian
merilis data bahwa permintaan industri pada kuartal II/2012 melemah
dicirikan dengan turunnya pesanan pabrik hingga 1,7% khusus di bulan
Juni. Sebagai perbandingan, para bulan sebelumnya tingkat pesanan
industri hanya turun 0,9%.
Selain di Jerman, imbas krisis utang
juga berpengaruh pa da pertumbuhan ekonomi Prancis. Kemarin Badan
Statistik Prancis INSEE menyatakan, perekonomian negara itu tidak
mengalami pertumbuhan alias 0% di kuartal II/2012. Kendati demikian,
hasil tersebut masih lebih baik dibanding prediksi analis yang mem
perkirakan Prancis masuk ke jurang resesi. “Pada estimasi awal, kuartal
II pertumbuhan ekonomi kami flat. Ini sejalan dengan perkiraan Bank
Sentral Prancis terkait pertumbuhan zona euro yang juga meramalkan masuk
resesi,” ujar INSEE.
Sebelumnya badan statistik Eropa Eurostat
merilis proyeksi pertumbuhan di kuartal II yakni 0%. Hal ini akibat
masih beratnya beban ekonomi zona euro akibat krisis utang yang belum
juga dapat diselesaikan. Di antara negara yang terbilang kuat
perekonomiannya, baru Italia yang melaporkan pertumbuhan ekonominya
terkontraksi 0,7% di kuartal II/2012. Isu pertumbuhan ekonomi di Prancis
sempat populer saat pemilihan Presiden Mei lalu.
Presiden
Prancis terpilih Francois Hollande berjanji mengurangi defisit anggaran
yang saat ini mencapai 4,5% dari produk domestik bruto menjadi 3% pada
akhir tahun 2013. Angka tersebut disesuaikan dengan persyaratan batas
atas defisit Uni Eropa.
Data pertumbuhan ekonomi Jerman dan
Prancis cukup memberikan sentimen positif ke pasar saham Eropa. Pada
sesi pembukaan perdagangan kemarin, indeks acuan DAX 30 di Frankfurt
menguat 0,80%, CAC 40 naik 0,56%, dan FTSE 100 di London menguat 0,04.
●yanto kusdiantono Narasumber : seputar-indonesia.com
|