|
Pekan lalu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan ekonomi
riil kuartal II/2012. Perekonomian Indonesia ternyata tumbuh
6,4%,sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi
kuartal sebelumnya yang 6,3%.
Data tersebut jelas merupakan
kejutan manis karena sebagian besar pengamat maupun analis memprediksi
perekonomian akan tumbuh lebih rendah dibandingkan kuartal I/2012. Dalam
posisi seperti itu, bisa saja statistik BPS “mengikuti” prediksi
pengamat dengan melahirkan data penurunan pertumbuhan ekonomi. Ternyata
BPS tetap mempertahankan independensinya dengan melaporkan angka
pertumbuhan yang lebih objektif, yaitu 6,4%.
Apakah ada data yang
mendukung angka pertumbuhan ekonomitu? Kebetulan saya terlibat dalam
dua bisnis berbeda, yaitu industri manufaktur dalam barang konsumsi yang
bergerak cepat (consumers fast moving goods), yaitu Unilever dan
industri perbankan,yaitu BCA. Dari perkembangan kedua perusahaan itu
yang sudah dipublikasikan kita mengetahui, pertumbuhan penjualan
UnileverIndonesiameningkatlebih dari 16% dibandingkan tahun sebelumnya.
Demikian juga dengan BCA yang mengalami pertumbuhan kredit 41,5%. Saya
selalu mengatakan, Unilever Indonesia adalah “miniatur”perekonomian
Indonesia. Pertumbuhan penjualan sebesar itu merupakan leading indicator
dari perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Oleh karena itu
sejak awal saya berkesimpulan, perekonomian Indonesia juga akan tumbuh
positif. Demikian juga pertumbuhan kredit yang tinggi dari BCA maupun
industri perbankan secara keseluruhan di Indonesia, menunjukkan kegiatan
ekonomi yang dibiayai perbankan tumbuh tinggi sehingga mereka
memerlukan tambahan pembiayaan cukup besar. Apa yang terjadi pada kedua
perusahaan di atas ternyata juga terjadi pada berbagai perusahaan publik
lainnya.
Laporan usaha para emiten tersebut, baik BUMN maupun
swasta, pada akhirnya ikut mendorong indeks harga saham gabungan di
Bursa Efek Indonesia naik signifikan. Optimisme yang terjadi di pasar
modal tersebut ternyata sangat sejalan dengan indeks tingkat kepercayaan
konsumen yang dipublikasikan AC Nielsen (yang menyatakan tingkat
kepercayaan konsumen di Indonesia tertinggi di Asia Pasifik) maupun yang
diolah secara bersama oleh BPS dan Bank Indonesia dalam bentuk indeks
tendensi bisnis yang ternyata menunjukkan kenaikan cukup signifikan.
Dengan
melihat perkembangan tersebut, maka data pertumbuhan ekonomi yang
dihasilkan oleh BPS merefleksikan situasi yang ada. Data yang menarik
juga, yang mendukung angka pertumbuhan tersebut, adalah angka penjualan
mobil yang sungguh-sungguh “mencengangkan”, termasuk mereka yang
bergerak dalam industri itu sendiri. Para industrialis mobil Indonesia
sebetulnya mulai pesimistis dengan dimulainya penerapan ketentuan
tentang uang muka kredit mobil baik yang dikeluarkan Bank Indonesia
maupun Kementerian Keuangan.
Jika prediksi Gaikindo pada akhir
tahun yang lalu, yang kebetulan juga didukung prediksi konsultan
automotif Frost and Sullivan menyatakan penjualan mobil di Indonesia di
tahun 2012 ini akan mencapai 940.000 unit, maka dengan keluarnya
ketentuan pemerintah tersebut,prediksi diturunkan menjadi sekitar
800.000 unit. Ternyata penjualan mobil bulan Juni untuk pertama kalinya
melampaui 100.000 unit. Rekor tersebut terulang kembali pada penjualan
mobil bulan Juli yang mencapai lebih dari 103.000 unit.
Secara
keseluruhan penjualan mobil sampai Juli 2012 telah mencapai sekitar
640.000 unit dan sangat mungkin dalam tahun 2012 ini penjualan mobil
akan mencapai lebih dari 1 juta unit. Prediksi saya sendiri di media ini
akhir tahun lalu menyatakan, penjualan mobil tahun 2012 akan sebesar
1,050 juta unit dan diakhiri dengan kata-kata “saya tidak akan terkejut
jika angkanya lebih tinggi dari itu”.
Apa yang sesungguhnya
terjadi? Krisis perekonomian global memang membawa dampak kepada
Indonesia. Dalam tulisan saya pekan lalu yang berkaitan dengan defisit
neraca perdagangan,saya mengatakan, dampak dari krisis perekonomian
global sangat dominan dalam bentuk penurunan harga komoditas.
Perkembangan ini menyebabkan nilai ekspor dari minyak sawit, karet, dan
barang mineral akhirnya mengalami penurunan. Anehnya,ekspor barang
industri seperti mesin listrik, mesin mekanik, kendaraan dan bagiannya
serta sebagian tekstil dan pakaian jadi justru masih mengalami kenaikan.
Defisit neraca perdagangan Indonesia lebih didorong kenaikan
impor yang sangat tinggi, yang untuk sebagian besar berupa barang modal
serta bahan baku dan barang penolong. Kenaikan impor barang konsumsinya
sendiri relatif kecil. Perkembangan inilah yang akhirnya melahirkan net
export yang negatif, yaitu defisit pada neraca perdagangan yang muncul
dalam komponen produk domestik bruto. Ekspor berdasarkan harga yang
berlaku mencapai Rp498,5 triliun pada kuartal 2/2012, sementara impor
meningkat menjadi Rp545,4 triliun sehingga terjadi defisit sebesar
Rp46,9 triliun.
Namun, dalam harga konstan net export tersebut
masih positif karena volume ekspor masih terus mengalami kenaikan. Ini
berarti pertumbuhan ekonomi domestik, terutama konsumsi dan investasi
tumbuh tinggi sehingga akhirnya mampu mengompensasi sumbangan negatif
pada net export tersebut.Pertumbuhan ekonomi domestik tersebut terutama
sekali terjadi karena Indonesia mengalami accelerated development
(pertumbuhan yang dipercepat) pada perekonomian domestik setelah
terlampauinya PDB per kapita sebesar USD3.000 di tahun 2010.
Dengan
mampunya perekonomian domestik mengompensasi penurunan net export,
seakanakan perekonomian Indonesia tidak terimbas krisis perekonomian
global. Saya sering menyebutnya sebagai de-coupled (terlepas) dari
perekonomian global. Saya menduga bahwa keadaan de-coupling tersebut
masih akan terjadi selama tahun-tahun mendatang (pengalaman Korea
menunjukkan terjadinya accelerated development selama 11 tahun setelah
melampaui PDB per kapita USD3.000). Itulah sebabnya prediksi pertumbuhan
ekonomi pemerintah sebesar 6,8% pada 2012 bukanlah angka yang dari
awang-awang, tetapi memiliki dasar kuat.● CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO Pengamat Ekonomi Narasumber : seputar-indonesia
|