
| PERTUMBUHAN EKONOMI: Pemerintah Pilih Target Konservatif |
|
|
|
| Berita |
| Oleh Administrator |
| Jumat, 03 Agustus 2012 09:11 |
|
JAKARTA: Mencermati perkembangan ekonomi global, pemerintah enggan
mematok target pertumbuhan ekonomi yang terlampau optimistis. Dari
kisaran 6,8%-7,2% yang disepakati bersama DPR, tingkat 6,8% dianggap
sebagai level dapat dicapai pada 2013.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menuturkan gejolak ekonomi
global, khususnya pelemahan Eropa diproyeksi akan terjadi dalam waktu
yang panjang. Untuk itu, Indonesia perlu mempersiapkan langkah
antisipatif agar tidak terjebak dalam gonjang-ganjing perkembangan
ekonomi dunia.
Hal tersebut diungkapkan Mahendra menanggapi langkah Bank Sentral Eropa
(ECB) yang memutuskan untuk menjaga suku bunga acuannya tetap rendah di
tingkat 0,75% dan suku bunga deposito tetap nol. Langkah ini ditempuh
ECB untuk mengatasi krisis utang Eropa yang telah mengancam perekonomian
Spanyol dan Italia dan kesatuan zona euro.
"Kita lihat dengan perkembangan itu mungkin lebih pas-nya 6,8% [target
pertumbuhan ekonomi 2013]. Ini antisipasi yang pas daripada
berharap-harap cemas mengenai perkembangan di tempat lain dan mematok
angka yang terlalu tinggi, kemudian tidak ter-deliver," tuturnya hari
ini, Jumat (3/8/2012).
Menurutnya, konsumsi dan investasi menjadi motor penggerak utama
ekonomi Indonesia pada 2013. Pada 2013, pemerintah memproyeksikan
konsumsi rumah tangga tumbuh pada kisaran 4,8%-5,2%, konsumsi pemerintah
tumbuh 6,7%-7,1%, sedangkan investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto)
tumbuh 11,9%-12,3%.
"Ditopang investasi dan konsumsi dalam negeri yang sangat kuat," ujarnya.
Penurunan nilai ekspor, ditanggapi Mahendra sebagai konsekuensi pelemahan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Indonesia
mengalami defisit berturut-turut dalam 3 bulan terakhir. Pada April
defisit ekspor-impor tercatat sebesar US$764,7 juta, Mei US$485,9 juta,
dan Juni US$1,32 miliar. Dengan nilai kumulatif ekspor semester I
(Januari-Jun) sebesar US$96,88 miliar, dan impor US$96,41 miliar.
Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Bambang P.S. Brodjonegoro
menungkapkan kemungkinan target ekspor US$200 miliar tahun ini tidak
akan tercapai. Bahkan, defisit neraca perdagangan bulanan bisa terjadi
hingga akhir tahun.
"Kita mau apa, kita bukan negara yang bisa lepas dari krisis global.
Sekali lagi, karena impornya tinggi berupa barang modal dan barang
baku. Itu masih positif kok nuansanya, kalau yang naik itu impor barang
konsumsi itu baru kita warning," ujarnya.
Pada 2013, pemerintah memproyeksikan ekspor tumbuh pada kisaran
11,7%-12,1%, sedangkan impor 13,5%-13,9%. Adapun tahun ini ekspor
diharapkan dapat tumbuh 9,9%.
Menurutnya, pemerintah tetap waspada dan berharap neraca modal dan
finansial dapat mengompensasi defisit neraca perdagangan, sehingga
keseimbangan neraca pembayaran Indonesia (NPI) tidak terganggu. (sut) Narasumber : bisnis.com
|








![]() | Today | 14932 |
![]() | Yesterday | 17938 |
![]() | This week | 54493 |
![]() | Last week | 143505 |
![]() | This month | 419704 |
![]() | Last month | 525773 |
![]() | All days | 5489612 |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |