|
JAKARTA –Produktivitas Crude Palm Oil (CPO) Indonesia dinilai masih
di bawah target yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan proses
intensifikasi belum bisa berjalan, padahal luasan lahan sawit Indonesia
cukup tinggi. Namun pelaku usaha perkebunan kepala sawit optimis tahun
2020 mendatang produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia diperkirakan
mencapai 40 juta ton. Menurut Soedjai Kartasasmita, Ketua Gabungan
Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) dalam acara International
Conference & Exhibition on Palm Oil (ICE-PO) di Jakarta, Rabu
(9/5), ini bisa tercapai mengingat kebutuhan dalam negeri yang terus
meningkat. Menurutnya, implementasi teknologi ramah lingkungan dari
hulu ke hilir telah dan terus dikembangkan untuk menjadikan industri
sawit ini green business. Peluang peningkatan produktivitas nasional
melampaui 5 juta ton minyak per hektar per tahun sangat mungkin
dilakukan dengan penerapan best management practise di kebun dan good
manufacturing practises di pabrik seperti yang terus dikembangkan Pusat
Penelitian Kelapa Sawit dan lembaga pendidikan dan riset lainnya.
"Sehingga bukan mustahil pada 2020 kita meraih produksi di atas 40 juta
ton CPO tanpa mempertimbangkan pembukaan lahan yang merupakan salah satu
mitigasi pengurangan gas rumah kaca," tukasnya.
Sementara Dirjen
Perkebunan Kementan Gamal Nasir mengutarakan produksi CPO rata-rata
mencapai 23,5 juta ton per tahun, di mana 16,5 juta ton di antaranya
diekspor ke sejumlah negara. Pembeli terbesar berasal dari India yang
mencapai 32%, diikuti China 13,3%, dan sisanya ke Uni Eropa, Banglades,
dan AS.
Danny R. Sultoni, Direktur Bimatama Inka yang menjadi
Ketua Penyelenggara ICE-PO 2012 ini menambahkan konferensi ini memberi
tekanan pada pentingnya sertifikasi minyak sawit yang berkelanjutan,
dipasangkan dengan pelaksanaan ISPO dan manfaat dari pengalaman nyata. Dibandingkan
periode yang sama tahun lalu, produksi CPO PT Astra Agro Lestari Tbk
(AALI) pada Januari 2012 meningkat 6,4%, dari 92.116 ton menjadi 98.042
ton.
Namun menurut Manager Jasa Konsultasi Pusat Penelitian
Kelapa Sawit (PPKS) Lukman Fadli, target produksivitas CPO itu memang
harus dikejar. "Selama ini, pertumbuhan produk sawit masih
bergantung pada perluasan lahan. Biaya untuk intensifikasi masih lebih
mahal dibandingkan dengan pembukaan lahan baru," kata Manager Jasa
Konsultasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Lukman Fadli di Jakarta,
Selasa.
Lukman mengatakan, untuk produktivitas kebun sawit
rata-rata mencapai 3,7 ton per tahun. Beberapa kebun sawit
produktivitasnya memang sudah bisa mencapai tujuh ton per tahun, namun
luasannya tidak banyak. "Produktivitas kebun sawit di Indonesia
lebih rendah dibandingkan Malaysia yang luas lahannya lebih kecil dari
Indonesia. Untuk produktivitas kebun sawit di dalam negeri tidak bisa
mencapai rata-rata tujuh ton karena sebagian besar kebun sawit merupakan
kebun rakyat," katanya.
Lebih lanjut Lukman mengatakan kebun
sawit yang dikelola oleh petani tidak mempunyai akses terhadap
teknologi benih yang baik, pupuk maupun manajemen pengolahan lahan.
Sekitar 10 persen dari total luas kebun sawit tidak menggunakan bibit
unggul.
"Kebanyakan petani menggunakan benih yang tidak
unggul. Bahkan seringkali mereka asal mengambil saja bibit dari pinggir
jalan untuk ditanam, " paparnya.
Sedangkan Direktur Eksekutif
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadil Hasan
mengatakan produksi sawit dari petani kecil masih rendah dan benih yang
dipakai masih kurang bagus. Hal tersebut membuat kualitas sawit menjadi
kurang maksimal.
"Perkebunan besar kelapa sawit jauh lebih
bagus daripada produksi dari petani kecil. Produktivitas produksi kelapa
sawit memiliki potensi sebesar 6 sampai 7 ton per tahun," katanya. inc Narasumber : surabayapost.co.id
|