
| Pertumbuhan Industri Baja Melambat |
|
|
|
| Berita |
| Oleh Administrator |
| Sabtu, 05 Mei 2012 09:48 |
|
JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Tersendatnya bahan baku industri baja membuat pertumbuhan industri ini melambat. Pasalnya, banyak bahan baku yang diimpor dari luar negeri tertahan di pelabuhan. Penahanan tersebut rupanya berlarut-larut sehingga memperlanbat laju industri. Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan saat ini banyak pelaku industri baja yang mengeluhkan susahnya mencari bahan baku. “Jika kelangkaan ini berlanjut hingga akhir tahun, diperkirakan industri baja dalam negeri tidak mempunyai daya saing,” kata. Menurutnya, penyebab kelangkaan bahan baku baja adalah banyak kontainer yang berisi besi bekas atau “scrap” impor yang tertahan di pelabuhan, bahkan ada yang ditahan karena diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Padahal, banyak industri baja yang bahan bakunya tergantung pada besi bekas impor dan “scrap”. “Tersendatnya bahan baku itu tidak hanya mengganggu industri baja saja, namun juga untuk indutri aluminium dan kuningan. Pemerintah 2011 menargetkan industri baja naik 15 persen. Namun dengan kelangkaan bahan baku ini bisa turun lagi di bawah target yang ditetapkan,” paparnya. Panggah menjelaskan, banyak pengaduan dari pelaku industri baja yang mengeluhkan kekurangan bahan baku dan lambannya pemeriksaan di pelabuhan oleh aparat Bea dan Cukai sampai dengan ditahannya kontainer mereka yang dinilai mengandung limbah (B3). Oleh karena itu, dibutuhkan partisipasi instansi terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Jika satuan tugas yang dibentuk untuk mengantisipasi masalah tersebut berjalan dengan baik, maka tidak ada kontainer yang ditahan,” ujarnya. Panggah menambahkan, perlu ada ketegasan dari pelaku survei, pasalnya sebelum pelaku industri baja mengimpor besi bekas, dilakukan survei terlebih dahulu. “Jika besi bekas atau scrap itu memang tidak memenuhi ketentuan jangan diperbolehkan masuk. Yang terjadi sekarang, sudah disurvei tapi masih ditahan juga dan pelaku industri baja sudah mengeluarkan biaya survei,” tuturnya. Menteri Perindustrian M. S. Hidayat menuturkan kebutuhan produk baja secara nasional mencapai 12 juta ton per tahun, tetapi industri dalam negeri baru bisa memenuhi sekitar 7 juta ton. “Meski Posco sudah berinvestasi di Indonesia bekerja sama dengan PT Krakatau Steel Tbk, kami akan terus meminta investasi baru di industri baja,” ujarnya. (red)
Narasumber : tubasmedia.com |








![]() | Today | 11780 |
![]() | Yesterday | 21623 |
![]() | This week | 33403 |
![]() | Last week | 143505 |
![]() | This month | 398614 |
![]() | Last month | 525773 |
![]() | All days | 5468522 |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |