Jakarta (ANTARA News) - Pertumbuhan industri baja tahun ini diperkirakan menurun jika kelangkaan bahan baku tidak bisa segera diatasi.

Oleh karena itu, dibutuhkan partisipasi instansi terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Saat ini banyak pelaku industri baja yang mengeluhkan susahnya mencari bahan baku. Jika kelangkaan ini berlanjut hingga akhir tahun, diperkirakan industri baja dalam negeri tidak mempunyai daya saing," kata Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto.

Menurutnya, penyebab kelangkaan bahan baku baja adalah banyak kontainer yang berisi besi bekas atau "scrap" impor yang tertahan di pelabuhan, bahkan ada yang ditahan karena diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Padahal, banyak industri baja yang bahan bakunya tergantung pada besi bekas impor dan "scrap".

"Tersendatnya bahan baku itu tidak hanya mengganggu industri baja saja, namun juga untuk indutri aluminium dan kuningan. Pemerintah 2011 menargetkan industri baja naik 15 persen. Namun dengan kelangkaan bahan baku ini bisa turun lagi di bawah target yang ditetapkan," paparnya.

Panggah menjelaskan, banyak pengaduan dari pelaku industri baja yang mengeluhkan kekurangan bahan baku dan lambannya pemeriksaan di pelabuhan oleh aparat Bea dan Cukai sampai dengan ditahannya kontainer mereka yang dinilai mengandung limbah (B3).

"Jika satuan tugas yang dibentuk untuk mengantisipasi masalah tersebut berjalan dengan baik, maka tidak ada kontainer yang ditahan," ujarnya.

Panggah menambahkan, perlu ada ketegasan dari pelaku survei, pasalnya sebelum pelaku industri baja mengimpor besi bekas, dilakukan survei terlebih dahulu.

"Jika besi bekas atau scrap itu memang tidak memenuhi ketentuan jangan diperbolehkan masuk. Yang terjadi sekarang, sudah disurvei tapi masih ditahan juga dan pelaku industri baja sudah mengeluarkan biaya survei," tuturnya.
(IAZ/SSB/S004)

Editor: Desy Saputra

 

Narasumber : antaranews.com