Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengakui konsentrasi alat berat konstruksi untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat.

"Dari kondisi eksisting saat ini sebesar 210 ribu unit alat berat berbagai ukuran, sebagian besar masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat," kata Kepala Badan BP Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum, Bambang Goeritno Soekamto kepada pers di Jakarta, Jumat.

Bambang mengemukakan hal itu terkait dengan rencana pameran dagang "ConBuild Mining Indonesia 2012 dan Renewables Indonesia 2012" kedua pada tanggal 2--5 Mei mendatang.

Untuk itu, tegasnya, diharapkan dengan adanya pameran ini, pelaku industri alat berat dalam dan luar negeri bisa melihat potensi pasar untuk alat berat yang demikian besar dan secara cepat dan tepat tertarik untuk berinvestasi, khususnya untuk Indonesia bagian timur.

"Percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia dalam beberapa tahun ke depan sudah bukan rahasia lagi. Melalui program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), kebutuhan dana pembangunannya mencapai Rp1.923 triliun hingga 2014," katanya.

Kebutuhan sebesar itu, lanjut dia, didasarkan pada asumsi bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,5 hingga 5,6 persen pada tahun 2010 menjadi 7--7,7 persen pada tahun 2014 diperlukan dana pembangunan infrastruktur minimal sebesar lima persen dari PDB.

Selaras dengan program itu, kata dia, anggaran untuk Kementerian PU juga meningkat secara drastis dari tahun ke tahun. Terbukti, untuk 2012 pada APBN Perubahan, anggaran Kementerian PU menjadi Rp75,146 triliun atau naik sebesar 29,65 persen dibandingkan dengan anggaran 2011 sebesar Rp57,96 triliun.

"Kenaikan anggaran itu, tentu saja memerlukan dukungan sumber daya konstruksi, antara lain ketersediaan material dan alat berat," katanya.

Namun, Bambang belum bersedia memerinci berapa potensi pertumbuhan alat berat yang diperlukan mulai 2013 dan seterusnya. "Yang jelas bertambah. Angkanya berapa belum dievaluasi," katanya.

Terkait dengan acara itu, Bambang menjelaskan bahwa pada tanggal 4 Mei akan ada seminar "Peluang Pasar Material dan Peralatan Konstruksi untuk Mendukung Penyelenggaraan Infrastruktur Nasional".

Saat PU Day seminar itu, kata dia, akan dirinci kebutuhan material dan peralatan untuk mendukung pembangunan tiga proyek strategis, yakni Jembatan Selat Sunda, Jakarta Mass Rapid Transit (MRT), dan "Green High Rise Building Construction".

Selain itu, tambah Bambang, saat PU Day seminar itu akan diluncurkan Sistim Informasi Sumber Daya Investasi (SISDI) tentang pasar konstruksi yang dibiayai APBN, APBD, BUMN, dan swasta maupun pasar konstruksi mancanegara.

"Info ini berpotensi bisa diakses oleh penyedia jasa di Indonesia serta sumber informasi sumber daya material peralatan konstruksi," kata Bambang.

Sementara itu, Managing Director CEO Asia Pasific Messe Munchen International (MMI) Ronald Unterburger menyebutkan pameran dagang ini merupakan bagian dari inisiatif infrastruktur oleh MMI karena pihaknya yakin bahwa pemeran berkelas dunia memberikan manfaat besar terhadap pembangunan berbagai infrastruktur di negara berkembang.

"Pameran ini akan menggunakan area seluas lebih dari 15 ribu meter persegi di Jakarta International Expo, Kemayoran (JI Expo) dengan melibatkan partisipasi negara Australia, China, Jerman, Korea, dan Singapura, serta Jerman," katanya.
(T.E008/D007)

Editor: Ruslan Burhani

 

Narasumber : antaranews.com