|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Jumat, 03 Mei 2013 12:33 |
|
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan manufaktur asal China, Fosun International Limited menggandeng perusahaan baja nasional PT Gunung Gahapi Sakti untuk membangun pabrik baja sistem tanur tinggi (blast furnace) di Medan, Sumatera Utara. Rencananya, Fosun bakal menggelontorkan dana sebesar 200 juta dollar AS yang akan dialokasikan dalam dua tahap.
Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Fosun International Limited, mengatakan Fosun dan Gunung Gahapi akan mendirikan satu perusahaan baru yang memiliki kapasitas produksi 1 juta ton dalam dua tahap. Tahap pertama, perusahaan patungan tersebut bisa memproduksi 500 ribu ton, dan sisa produksinya bisa dilakukan pada tahap berikutnya.
"Perusahaan tersebut bakal menggunakan bahan baku iron ore pellet (bijih besi) untuk menghasilkan produk slab (baja setengah jadi) dan billet. Produk tersebut bisa digunakan untuk industri kapal, dan otomotif," kata Panggah, Jumat (3/5/2013).
Menurut Panggah, alasan Fosun memilih Gunung Gahapi sebagai partner bisnis yaitu pasar baja di Indonesia cukup tinggi. Selain itu, saat ini di China masih ada pembatasan kapasitas produksi baja. "Target pembangunannya kemungkinan bisa dilakukan dalam tiga tahun," ungkapnya.
Panggah menuturkan, dengan masuknya sejumlah pabrik baja, maka hal tersebut bisa mengurangi impor bahan baku. Menurut Panggah, masuknya sejumlah investor asing yang menanamkan investasinya di sektor tambang juga sejalan dengan UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009.
Untuk memuluskan rencana tersebut, Fosun saat ini masih melakukan negosiasi dengan BKPM.
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 03 Mei 2013 16:52 |
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Jumat, 03 Mei 2013 09:40 |
JAKARTA. Ekspor nikel di kuartal pertama tahun ini melonjak tajam menyusul akan berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral Batubara, yang akan melarang ekspor mineral dalam kondisi mentah (ore) mulai tahun 2014.
Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, realisasi ekspor nikel kuartal I mencapai 15,9 juta ton atau naik 55,1% dibandingkan waktu yang sama tahun lalu.
Ahmad Ardianto, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengatakan, tingginya realisasi ekspor dilakukan pengusaha menjual hasil produksinya sebelum pemberlakuan larangan ekspor.
"Seluruh perusahaan tambang sekarang ini tentunya berpikir aji mumpung untuk mengekspor bijih mineral," kata dia kepada KONTAN, Jumat (3/5). Tingginya realisasi ekspor nikel itu juga terjadi saat harga nikel tengah lesu, lantaran melimpahnya stok bahan baku di China.
Sekarang ini, harga bijih nikel di pasar internasional hanya mencapai US$ 28 per ton, atau turun 17,8% dibandingkan bulan lalu. Ardianto menambahkan, tingginya angka ekspor ore belakang ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah.
"Ada pengusaha yang menggenjot ekspornya untuk meningkatkan pendapatan guna program pembangunan unit pengolahan dan pemurnian (smelter), ada juga perusahaan yang meningkatkan ekspor semata-mata karena masih diperbolehkan dan belum punya niat bangun smelter," kata dia.
Narasumber : kontan.co.id
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Jumat, 03 Mei 2013 09:08 |
|
BISNIS.COM, JAKARTA—Meski harga batu bara masih rendah, produsen batu bara milik grup Sinarmas, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) tetap menargetkan pertumbuhan produksi dan penjualan tahun ini.
Sekretaris Perusahaan Golden Energy Mines Sudin mengatakan target penjualan tahun ini dipatok sebesar 9—10 juta ton, meningkat sekitar 30% dari tahun lalu 7,6 juta ton.
“Sedangkan target produksi sebesar 7 juta ton, meningkat dari tahun lalu 5,6 juta ton,” ujarnya ketika ditemui usai RUPS Tahunan di kantornya, Jumat (5/3/2013).
Sudin mengaku optimistis mencapai target tersebut seiring dengan akan beroperasinya dua proyek infrastruktur, yakni proyek Bunati dan Nilau. Proyek Bunati diperkirakan beroperasi pada kuartal II/2013, sedangkan proyek Nilau pada kuartal III/2013.
“Dengan selesainya kedua proyek tersebut, pengapalan batu bara bisa lebih cepat dan lebih banyak, karena dari sisi produksi, kami udah ngga masalah,” ujarnya.
Untuk diketahui, perseroan melalui anak usaha PT Borneo Indobara sedang melakukan pembangunan infrastruktur conveyor pelabuhan Bunati yang terletak di Desa Bunati, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Selain itu, perseroan melalui anak usaha lainnya, PT Tanjung Belit Bara Utama juga sedang melakukan pembangunan infrastruktur di Desa Teluk Nilau, Kecamatan Pengabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Proyek Nilau berupa perbaikan jalan akses pelabuhan Nilau, pembangunan jalan baru akses ke pelabuhan Nilau, serta pembangunan pelabuhan Nilau.
Sudin mengatakan dari target penjualan 9—10 juta ton, kebanyakannya dijual di pasar spot, bukan berupa kontrak jangka panjang. Saat ini, kontrak jangka panjang yang dimiliki perseroan baru dengan GMR Coal Resources Pte Ltd, salah satu pemegang saham GEMS yang berasal dari India namun berkedudukan di Singapura.
“GMR kemudian akan memasok batu bara ke pembangkit listrik di India. Kontrak jangka panjang dengan GMR selama 25 tahun, tapi tahun ini baru 1 juta ton. Kontraknya progresif, tahun depan meningkat jadi 1,5 juta ton, tahun depannya lagi 3 juta ton,” ujarnya.
Adapun dari delapan tambang yang dimiliki perseroan, tinggal tiga yang belum berproduksi yaitu PT Bungo Bara Utama, PT Berkat Nusantara Permai, dan PT Tanjung Belit Bara Utama.
Adapun sisanya sudah berproduksi, yaitu PT Karya Cemerlang Persada, dan PT Bara Harmonis Batang Asam. Selanjutnya, PT Borneo Indobara, PT Kuansing Inti Makmur, dan PT Trisula Kencana Sakti.
Kedelapan tambang itu tersebar di Kabupaten Tanah Bumbu (Kalsel), Kabupaten Bungo (Jambi), dan Kabupaten Barito Utara dan Barito Timur (Kalteng). (mfm)
Narasumber : bisnis.com
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Jumat, 03 Mei 2013 09:05 |
|
BISNIS.COM, BANDUNG—Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi 2013 akan sedikit lebih rendah dari pada perkiraan semula, tetapi masih akan tumbuh di kisaran 6,2%-6,6%.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas mengatakan sasaran inflasi pada 2013 dan 2014 yaitu sebesar 4,5% dalam kisaran kurang lebih 1%, dan BI Rate di level 5,75% yang dipertahankan berdasarkan keputusan Rapat Gubernur Bank Indonesia pada 11 April lalu.
“Gejolak harga bahan pangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir saja telah mendorong tingginya inflasi IHK pada Maret 2013 yang mencapai 0,63% [mtm] atau 5,90% [yoy] di atas rata-rata historisnya,” katanya di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten, Jumat (3/5/2013).
Dia melanjutkan indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,1% seiring membaiknya pasokan sejumlah komoditas bahan makanan dan menurunnya tekanan eksternal pada April 2013.
“Di sisi lain, pemulihan ekonomi global tidak sebaik perkiraan sebelumnya dan masih dibayangi ketidakpastian,” ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi AS, sebutnya, diperkirakan tertahan akibat permasalahan fiskal, meskipun kegiatan produksi dan konsumsi mulai menunjukkan perbaikan.
Dia menyebutkan resesi ekonomi Eropa masih berlanjut dan diperburuk dengan kondisi Cyprus walaupun perbaikan situasi politik di kawasan tersebut, terutama di Italia, telah mendorong penurunan risiko.
“Sejalan dengan kondisi-kondisi tersebut, respon kebijakan bank sentral dunia secara umum masih tetap akomodatif, dengan mempertahankan suku bunga ketat maupun melalui program quantitative easing,” tuturnya. (ltc)
Narasumber : bisnis.com
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Jumat, 03 Mei 2013 08:46 |
|
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, mengatakan Cina akan membangun pabrik pengolahan baja (blasturnis) di Medan, Sumatera Utara, lantaran ada kebijakan pembatasan investasi di negaranya. Selain itu, kebijakan pembatasan impor produk di Indonesia pada tahun 2014 membuat mereka juga ingin mendirikan pabrik langsung di Indonesia. "Mereka yang mendatangi kita,' ujar dia di kantornya hari ini, Jumat, 3 Mei 2013.
Pendirian pabrik ini terjalin atas kerja sama antara Fosun Internasio Ltd asal Cina dan PT Gunung Garuda yang berbasis di Bekasi, Jawa Barat. Alasan lainnya, karena Indonesia memiliki pasar yang potensial dalam produk tambang.
Investasi kerja sama ini bernilai US$ 200 juta tersebut akan dipecah dalam dua tahap. "Tahap pertama US$ 100 juta, tahap kedua US$100 juta," ujar Panggah. Diharapkan dengan adanya pabrik ini, produksi besi baja Indonesia melebihi tahun sebelumnya, yakni 10 juta ton per tahun. "Cina bisa memproduksi 500 juta ton per tahun."
Belum ada kepastian mengenai kapan pembangunan pabrik akan dimulai. Namun, Panggah menyatakan, jika melihat kebijakan pengurangan impor produk mineral pada 2014 mendatang, pembangunan akan dilaksanakan secepatnya. "Akhir tahun ini mungkin akan segera terealisasi."
Panggah menyatakan kerja sama ini didasari atas Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara yang mengatakan diharuskan adanya hilirisasi mineral logam dalam rangka pengurangan impor pada 2014 mendatang.
Pasar baja Indonesia pada 2013 ditaksir mencapai Rp 71.05 triliun, naik 7 persen dari 2012 sebesar Rp 66,4 triliun. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) memprediksi konsumsi baja di dalam negeri pada 2013 meningkat 7 persen menjadi 10.97 juta ton dari 10.25 juta ton pada 2012.
Namun, harga baja dunia (baja canai panas/HRC yang menjadi patokan harga baja dunia) di akhir 2012 turun ke level US$ 570-590 per ton dari posisi akhir 2011 sebesar US$ 690-720 per ton. Penurunan harga baja dunia bisa mempengaruhi nilai pasar baja Indonesia di 2013.
Prediksi peningkatan konsumsi baja di Indonesia didasarkan pada peningkatan investasi di sektor manufaktur, otomotif dan realisasi pembangunan sejumlah proyek infrastruktur pemerintah. Pertumbuhan industri baja pada tahun depan masih prospektif sepanjang industri dan kondisi ekonomi global terus membaik.
AMRI MAHBUB
Narasumber : tempo.co
|
|
|