|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Senin, 06 Mei 2013 16:54 |
|
TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik melaporkan, ekonomi Indonesia tumbuh 6,02 persen pada kuartal pertama tahun ini. Angka ini turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang tumbuh 6,29 persen.
"Tapi, jika dibandingkan kuartal IV 2012, naik 1,41 persen," kata Kepala BPS, Suryamin, di Jakarta, Senin, 6 Mei 2013.
Menurut Suryamin, perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal I 2013 mencapai Rp 2.146,4 triliun. Sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 671,3 triliun.
Ia menyatakan, pada kuartal ini, pertumbuhan didukung oleh hampir semua sektor, kecuali pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan sebesar 0,43 persen. "Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,98 persen," katanya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan kuartal serupa tahun lalu didukung oleh komponen pembentukan modal tetap bruto sebesar 5,9 persen. Adapun pengeluaran konsumsi rumah tangga serta ekspor barang dan jasa masing-masing menyumbang 5,17 persen dan 3,39 persen.
"Sedangkan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat sebesar 0,42 persen dan komponen impor turun sebesar 0,44 persen," kata Suryamin.
ANGGA SUKMA WIJAYA
Narasumber : tempo.co
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Senin, 06 Mei 2013 09:56 |
JAKARTA. Harga minyak mentah menguat. Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang positif menjadi salah satu penyebabnya. Ini meningkatkan spekulasi konsumsi minyak AS akan meningkat.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2013 di Bursa Nymex, Jumat (3/5), naik 1,72% menjadi US$ 95,61 per barel dibanding harga sehari sebelumnya. Dalam sepekan harga minyak telah naik sebesar 2,8%.
Data nonfarm payrolls AS tumbuh sebanyak 165.000 pekerja pada bulan lalu. Angka ini di atas ekspektasi para analis yang tumbuh sebanyak 140.000 pekerja. Tingkat penggangguran juga secara mengejutkan turun menjadi 7,5% dari 7,6% di bulan sebelumnya.
"Rilis data pekerja merupakan katalis besar bagi harga minyak," ujar Jeff Grossman, Presiden BRG Brokerage seperti dikutip Bloomberg. Banyak analis yang memperkirakan, harga minyak akan kembali rebound akibat rilis data ekonomi terbaru dari AS ini. Namun, Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures mengatakan, pergerakan harga minyak saat ini masih cenderung bergerak sideways.
Sebab, selama bulan April lalu, minyak seperti tidak pernah lepas dari sentimen negatif, mulai dari perlambatan sektor manufaktur China, pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sesuai harapan, naiknya cadangan minyak AS dan bertambahnya output minyak OPEC.
Albertus Christian, analis Monex Investindo Futures menambahkan, selama sepekan mendatang potensi rebound harga minyak masih bisa tercapai. Dengan catatan, rilis data ekonomi dari China seperti neraca perdagangan dan inflasi menunjukkan hasil yang positif.
Cadangan naik
Namun, ada kekhawatiran harga minyak cenderung melemah di pekan ini setelah cadangan minyak AS meningkat. Dalam sepekan yang berakhir di 26 April, tercatat pasokan minyak mentah naik 6,7 juta barel menjadi 395 juta barel. Adapun total konsumsi bahan bakar turun 1,4% menjadi 18,30 juta barel per hari dalam empat minggu terakhir yang berakhir di 26 April.
Secara teknikal, Nizar melihat, pergerakan harga minyak masih akan mendatar. Indikator moving average (MA) menunjukkan harga bergerak di atas MA 25 dan MA 50, mengindikasikan ada potensi naik. Moving average convergence divergence (MACD) berada di titik 0, dengan pergerakan flat.
Indikator relative strength index (RSI) berada di level 55 dengan pergerakan sideways. Sementara, indikator stochastic sudah mencapai titik overbought 80, dengan pergerakan turun.
Selama sepekan, Nizar memprediksi, harga minyak melemah terbatas di kisaran US$ 91,00 – US$ 96,00 per barel. Proyeksi Albertus, minyak terkoreksi tipis di kisaran US$ 91,70 – US$ 98,00 per barel
Narasumber : kontan.co.id
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Senin, 06 Mei 2013 09:54 |
JAKARTA. Pasar baja domestik yang gemuk membuat pebisnis baja global kian melirik pasar dalam negeri. Apalagi, pasar baja dunia masih lesu terimbas krisis ekonomi.
Menurut Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, permintaan baja di tanah air berkisar 10 juta ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan bisnisnya antara 6%–8%. Padahal produksi baja domestik baru berkisar antara 5 juta–6 juta ton per tahun.
Jelas, ini kesempatan emas bagi produsen baja dunia masuk ke pasar domestik. Apalagi, mereka sempat membatasi kapasitas produksi akibat permintaan baja dunia yang cenderung turun.
Salah satunya adalah Fosun International Limited. Pabrikan baja asal China ini akan membangun pabrik baja blast furnace atau pelebur besi di sekitar Medan, Sumatra Utara. Untuk merealisasikan investasi ini, Fosun akan menggandeng produsen baja lokal, PT Gunung Gahapi Sakti, anak usaha dari Gunung Steel Group.
Panggah bilang, Fosun akan menginvestasikan dana sebesar US$ 200 juta untuk mendirikan pabrik tersebut dalam dua tahap. "Tahap pertama investasi sebesar US$ 100 juta dan tahap kedua sisanya," katanya, akhir pekan lalu.
Pada tahap pertama, pabrik ini akan memproduksi sekitar 500.000 ton slab dan billet (baja setengah jadi) per tahun. Kapasitas produksi bahan baku baja ini akan dilipatgandakan pada tahap kedua. Bila terealisasi, produksi pabrik tersebut akan mengikis impor bahan baku baja.
Sebelumnya, produsen baja asal India, Essar Steel, juga berniat memperbesar kapasitas produksi baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil (CRC) hingga 75%. Lewat anak usaha di Indonesia, PT Essar Indonesia, perusahaan ini ingin menggenjot kapasitas produksi menjadi 700.000 ton per tahun mulai tahun depan. Kini, kapasitas produksi Essan Indonesia sebesar 400.000 ton per tahun.
Untuk itu Essar Indonesia akan membangun pabrik di Cibitung, Jawa Barat, dengan nilai investasi US$ 125 juta. Saat ini Essar Indonesia sudah memiliki pabrik baja di Cikarang, Bekasi.
Panggah bilang, niat Essar untuk menggenjot produksi CRC didorong oleh jurang antara permintaan dan pasokan baja di Indonesia yang masih tinggi. Kebutuhan CRC di Indonesia bisa mencapai 2,5 juta ton per tahun. Sementara, PT Krakatau Steel Tbk sebagai produsen terbesar CRC, baru bisa memasok 30% dari total kebutuhan tersebut.
Rencananya, penambahan kapasitas produksi ini akan dilakukan pada kuartal kedua tahun ini. “Ekspansi ini diharap berlangsung secepatnya agar bisa memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Panggah.
Narasumber : kontan.co.id
|
|
Berita
|
|
Oleh Administrator
|
|
Sabtu, 04 Mei 2013 12:03 |
|
JAKARTA - Perusahaan penyedia teknologi pertambang global dan logam, Outotec mendirikan anak usaha di Indonesia, yakni PT Outotec Technology Solutions.
“Kantor baru di Indonesia juga akan membantu mendorong perluasan Outotec ke Asia Pasifik,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/5/2013).
CEO dan President Outotec Pertti Korhonen menjelaskan, Indonesia memiliki beberapa sumber daya terbesar berupa emas, nikel dan timah, serta bauksit, tembaga dan perak. Indonesia memiliki potensi sangat besar dalam energi terbarukan. Indonesia terus berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia.
“Melalui industri teknologi kami yang maju, kami ingin menyumbangkan pembangunan yang berkesinambungan di industri pertambangan dan metalurgi. Pangsa pasar Indonesia menawarkan kesempatan menarik untuk Outotec,” tambah dia.
Dia melanjutkan, industri mineral logam, minyak, dan gas Indonesia, serta sektor listrik, merupakan bagian utama dari sektor industri di Indonesia. Pengembangan sektor-sektor ini tetap sebagai bagian sangat penting dari rencana pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menujukkan kesempatan jangka pendek dan jangka panjang untuk keseluruhan Group Outotec.
Outotec, kata dia, bertujuan untuk membantu meningkatkan industri pertambangan Indonesia dan memberi solusi untuk membantu Indonesia sebagai negara pertambangan yang besar dan berkelanjutan pada tahap global.
“Pendirian anak perusahaan Outotec di Indonesia ini mendasari komitmen kami untuk secara lebih dekat dengan konsumen dan dengan demikian meningkatkan kontribusi berkelanjutan kami terhadap industri pertambangan Indonesia dan masyarakat luas,” ucap dia. (wdi)
Narasumber : okezone.com
|
|
|